Jamupedia

Tak Banyak Diketahui Orang, Berikut Fakta Menarik dari Jamu Gendong

"Di zaman yang serba modern saat ini, banyak cara untuk menjual jamu di pasaran. Mulai dari kedai, toko jamu, café jamu, jualan online di media sosial dan yang sering kita jumpai yaitu kios jamu di pasar. Selain itu, ada cara tradisional untuk memasarkan jamu kepada masyarakat, yaitu dengan menjual jamu berkeliling dengan menggendong bakul jamu atau sering kita sebut dengan istilah jamu gendong"

Diterbitkan oleh : Riang Ayu  -  10/05/2020 17:03 WIB

2 Menit baca.

Jamu gendong sama halnya dengan jamu-jamu yang lain, yang membedakan adalah cara berjualannya dengan berjalan keliling dari rumah ke rumah. Dahulu kita juga kerap menjumpai para penjual jamu gendong di jalanan dan di pasar. Selain itu ada juga penjual jamu gendong yang membuka lapak di suatu tempat keramaian, seperti stadion, sekolahan, tempat wisata dan banyak lainnya. 

Sumber: mediaindonesia.com

Sayangnya, sekarang susah sekali mencari penjual jamu gendong karena cara modern mengalahkan cara tradisional. Di balik itu semua, ternyata jamu gendong memiliki fakta menarik yang tidak banyak diketahui orang. 

Berikut fakta-fakta menarik tentang jamu gendong yang harus sobat ketahui!

1. Panggilan “mbok” 

Panggilan “mbok” untuk penjual jamu gendong seperti sudah melegenda dalam ranah perjamuan Indonesia. “Mbok” artinya panggilan kepada  perempuan Jawa dalam bahasa kromo. 

2. Jumlah Botol Jamu

Jumlah botol yang dibawa oleh penjual jamu gendong berbeda-beda. Konon, apabila jumlah botol ganjil menandakan bahwa penjual jamu sudah bersuami. Sedangkan apabila jumlah botol genap menandakan bahwa penjual masih perawan/gadis.

3. Menggunakan Botol Kaca

Bila kita amati, botol-botol yang dipakai mbok jamu sebagai wadah jamu adalah botol kaca. Hal ini dikarenakan botol kaca dianggap lebih higienis, aman, dan mudah dicuci meskipun bila digendong memiliki beban yang cukup berat. 

4. Memakai Pakaian Adat Jawa

Salah satu ciri khas dari penjual jamu gendong yaitu menggunakan pakaian adat jawa. Hal tersebut dikarenakan tradisi turun menurun dan untuk menunjukan bahwa jamu merupakan pengobatan tradisional yang ada di Jawa.

5. Mengenakan Kain Gendong Jarik

Penjual jamu gendong selalu menggunakan kain gendong jarik (seperti batik) untuk menggendong bakul yang berisi botol-botol jamu karena dianggap lebih kuat dari kain-kain lainnya. 

6. Membawa Ember Kecil 

Sambil berjalan keliling, penjual jamu juga selalu membawa ember kecil berisi air untuk mencuci gelas.

7. Bakul Berukuran Besar 

Tempat wadah jamu yang digendong penjual jamu disebut bakul. Bakul adalah sebuah keranjang yang dibuat dari anyaman bambu. Di daerah pedesaan biasanya bakul kecil umum digunakan sebagai tempat nasi, sedangkan bakul yang besar untuk tempat padi yang baru dipanen. 

8. Membawa Termos Kecil

Perlu diketahui ya sobat, penjual jamu gendong tidak hanya menjual jamu di botol saja tetapi juga jamu kemasan dan telur ayam kampung. Fungsi termos ini adalah untuk menyimpan air panas guna menyeduh jamu kemasan. 

Dari beberapa fakta menarik di atas, fakta mana yang baru sobat ketahui? Selain menyehatkan, jamu juga aman dikonsumsi karena terbuat dari bahan-bahan alami. Yuk, mulai sekarang mari kita rutinkan minum jamu sebagai upaya untuk melestarikan budaya leluhur kita!

 

Artikel Terkait: 

Merunut Sejarah Jamu

Awal Mula Jamu Gendong

Begini  Idealnya Minum Jamu Gendong

Post Terkait

Merunut Sejarah Jamu

10 May, 2020

Asal usul dan perkembangan jamu tidak sepenuhnya diketahui secara pasti. Hal ini dikarenakan tidak ada dokumentasi tentang perkembangan awal pengetahuan dan obat-obatan tradisional atau jamu. Asal usul atau segala cerita terkait dengan pemanfaatan jamu oleh generasi terdahulu diwariskan secara lisan ...[More]

Awal Mula Jamu Gendong

10 May, 2020

Penjual jamu keliling umum kita temui di desa-desa hingga perkotaan. Meskipun saat ini mulai banyak penjual jamu yang menjajakan jamu dengan naik sepeda atau bahkan sepeda motor, tetapi pada awalnya penjual jamu keliling menjual jamu dengan cara digendong. Rata-rata penjual ...[More]