Jamupedia

Rekam Jejak Jamu Nusantara dalam Manuskrip Jawa dan Bali

"Berbagai macam bahan ramuan obat tradisional atau jamu terekam secara tertulis dalam manuskrip atau biasa disebut naskah kuno. Cara pengobatan dan penyajiannya pun terdokumentasi di dalamnya dan telah digunakan oleh nenek moyang Indonesia. Kita bisa menelusuri jejak pengobatan tersebut dari berbagai manuskrip seperti manuskrip Jawa dan manuskrip Bali"

Diterbitkan oleh : Riang Ayu  -  21/06/2021 16:24 WIB

3 Menit baca.

Belakangan ini jamu banyak diburu oleh masyarakat untuk dijadikan minuman peningkat daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit. Banyak orang mulai sadar dan meyakini bahwa jamu dapat mencegah dan mengobati berbagai jenis penyakit. Jejak pengobatan warisan budaya ini pun dapat ditelusuri hingga ke masa prasejarah. 

Sejak ribuan tahun lalu, manusia purba sudah menggunakan berbagai tanaman sebagai obat. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah berupa alat batu pipisan yang mereka gunakan untuk menghaluskan bahan-bahan yang akan digunakan. Peninggalan ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Beberapa relief pada Candi Borobudur juga memperlihatkan bukti bahwa obat tradisional sudah digunakan sejak dulu. 

Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Pemanfaatan tanaman sebagai obat juga ditemukan dalam naskah-naskah kuno pada masa kerajaan Hindu hingga penjajahan Belanda. Setidaknya pada abad ke-17 pemanfaatan jamu sudah mulai ditulis dalam manuskrip-manuskrip dan menjadi tradisi turun menurun.  

Jamu dalam Manuskrip Jawa

Literatur tentang penggunaan jamu pada masa lampau tertulis dalam Serat Primbon Jampi Jawi abad ke-18 pada masa Hamengkubuwono II. Naskah ini berisi tentang berbagai macam khasiat dari berbagai jenis tanaman dan resepnya untuk pengobatan. Resep tersebut diolah secara tradisional untuk keperluan kecantikan dan kebugaran perempuan bangsawan. 

Selain itu, juga tertulis dalam Serat Centhini yang ditulis atas perintah pemimpin Surakarta (1820-1823), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III. Dalam Serat Centhini, tumbuhan obat digunakan untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, mengurangi sakit, penyembuhan, dan mempercantik diri. Naskah ini memuat lengkap cara pembuatan dan cara pengobatannya. 

Sumber gambar: buddhazine.com

tradisi Jamu juga tertulis dalam Serat Kaweruh yang disusun pada tahun 1831 atas perintah Pakubuwono V. Kitab ini memuat 1.166 resep, 922 di antaranya merupakan ramuan bahan alam sementara 244 resep lainnya berupa catatan rajah dan jimat. 

Jamu dalam Manuskrip Bali

Literatur penggunaan jamu tertulis dalam Lontar Tutur (Tatwa) yang berisi tentang ajaran aksara gaib atau wijaksara, ajaran anatomi, fisiologi, falsafah sehat-sakit, pedewasaan mengobati orang sakit, sesana balian, dan memeriksa pasien. 

Selain itu juga tertulis dalam Lontar Usada yang berisi tentang cara memeriksa pasien, mendiagnosa, meramu obat (farmasi), terapi, prognosis, upacara yang berkaitan dengan pencegahan, dan pengobatan. 

Sumber gambar: bali.idntimes.com

Tradisi jamu dalam budaya Bali juga tertulis dalam Lontar Usada Taru Pramana yang ditulis sejak zaman kerajaan. Naskah ini menjelaskan tentang bahan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Secara mitologi, tumbuh-tumbuhan dapat berbicara dan menceritakan khasiat dirinya. 

Perpustakaan Nasional RI menjadi tempat penyimpanan naskah kuno tentang obat tradisional dari berbagai suku di Indonesia dan sudah mulai ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Nasional memuat tentang kumpulan resep obat-obatan dan cara pengobatan tradisional yang ditulis dalam bahasa Belanda, Aksara Arab, Jawa, dan Bali.