Jamupedia

Qinghaosu, Obat Malaria Paling Ampuh Dari Kitab Kuno Pengobatan Tradisional

"Qinghaosu atau bisa juga disebut dengan ekstrak artemisia merupakan obat malaria yang ditemukan dari buku kuno berisi ribuan tata cara pengobatan tradisional Cina. Obat malaria paling ampuh ini menyelamatkan jutaan nyawa manusia."

Diterbitkan oleh : Farida  -  02/08/2022 15:11 WIB

3 Menit baca.

Dahulu, pada 1950-an hingga 1970-an, dunia sedang menghadapi wabah malaria. Anggapan para dokter dan peneliti kalau mereka sudah menemukan obat malaria waktu itu terbantahkan. Parasit Plasmodium yang menjadi penyebab malaria menjadi resisten dengan obat malaria waktu itu, klorokuin. Hasilnya wabah pun kembali meledak dan susah dikendalikan.

Sumber: https://www.halodoc.com

Kondisi tersebut membuat peneliti dari berbagai negara bergegas untuk meneliti Malaria dengan tujuan membuat obat malaria yang lebih ampuh dan efektif. Laman tirto.id mencatat pada waktu itu ada dua penelitian besar untuk menemukan antimalaria yang baru.

Pertama adalah dari Amerika Serikat (AS). Penelitian tersebut didasari dengan motif militer. Alasannya, pada 1964 lebih banyak tentara AS yang tewas karena malaria di hutan-hutan Vietnam dibandingkan yang tewas karena perang. Sayang sekali, hingga  1972 penelitian ini belum bisa menemukan senyawa yang efektif untuk antimalaria.

Penelitian kedua dilakukan di Cina di masa pemerintahan Mao Zedong. Inisiasi penelitian antimalaria ini bermula saat Perdana Menteri Vietnam, Ho Chi Minh, meminta pertolongan Mao Zedong untuk membantu menangani wabah malaria di Vietnam pada tahun 1964.

Proyek 523

Pada 1967 militer Cina memulai penelitian untuk mencari obat malaria. Penelitian rahasia itu diresmikan pada 23 Mei 1967 sehingga disebut dengan nama Proyek 523. Beruntung Cina memiliki sejarah pengobatan tradisional yang sangat panjang.

Militer Cina menggandeng Akademi Pengobatan Tradisional Cina untuk melakukan penelitian dari segi pengobatan tradisional. Hal tersebut sejalan dengan kebijakan Mao Zedong terkait Revolusi Kebudayaan yang cenderung tidak berpihak pada terobosan saintifik.

Tu Youyou, seorang peneliti dari Akademi Pengobatan Tradisional Cina ditunjuk untuk memimpin Proyek 523 dari segi pengobatan tradisional. Tu langsung membawa tim nya ke Pulau Hainan yang merupakan salah satu daerah yang berjuang melawan wabah Malaria.

Tu dan timnya membawa pulang lebih dari 2000 resep pengobatan tradisional dari pulau tersebut. Resep-resep tak hanya dari tumbuhan tetapi ada juga yang dari mineral dan hewan.

Disarikan dari artikel ilmiah berjudul Discovery of Artemisinin (Qinghaosu) karya Fulong Liao yang dimuat dalam Jurnal Molecules pada 2009, bahwa dari 2000 resep yang didapatkan dikerucutkan menjadi 640 resep yang dianggap memiliki efek antimalaria.

Dari 640 resep mengerucut lagi menjadi 380 resep ekstrak dari 200 herbal Cina. Salah satu ekstrak yang digunakan berasal dari Artemisia annua. Setelah itu, percobaan pada hewan pun dilakukan.

Sumber: https://www.healthline.com

Tu dan timnya menemukan bahwa ekstrak Artemisia memberikan efek antimalaria. Meski demikian hasilnya sangat tidak stabil. Di titik ini Tu kembali merujuk pada berbagai buku pengobatan tradisional kuno yang ada di Cina.

Ia mengkurasi berbagai buku pengobatan kuno yang membahas tentang obat demam, salah satu gejala paling umum penderita malaria. Titik balik penelitiannya terjadi saat Tu mengambil teknik dari buku pengobatan tradisional ‘Buku Resep-Resep Untuk Darurat’ karya Ge Hong dari Dinasti Jin (284-346 M).

Dari buku karya Ge Hong diisyaratkan tentang cara ekstrak artemisia yang menghindari suhu terlalu panas. Tu akhirnya mengganti komponen yang digunakan untuk membuat ekstrak. Hasilnya efektif 100% untuk antimalaria.

Karena tuntutan pada waktu itu, Tu dan dua rekannya menjadi orang pertama yang mencoba obat malaria artemisin ini. Kemudian Tu membawa sampel obat herbal malaria artemisin ke Pulau Hainan untuk menyembuhkan orang-orang di sana.

Ekstrak Artemisin sebagai obat herbal malaria sudah ditemukan sejak akhir 1970-an, namun kabarnya tidak lekas menyebar ke dunia internasional. Selain penelitian ini rahasia, artikel ilmiah yang membahasnya masih hanya dibuat dalam bahasa Cina. Obat itu disebut dengan Qinghaosu. 

Qinghao adalah nama Artemisia annua dalam bahasa Cina sedangkan tambahan su berarti elemen paling dasar. Jadi obat itu adalah elemen paling dasar dari artemisia annua.

Sumber: https://m.fimela.com

Tu Youyou baru mempresentasikan temuannya itu untuk mata internasional pada 1980-an. Bahkan WHO baru meresmikan penggunaan Artemisin sebagai langkah awal pengobatan malaria pada 2005.